Wawasan Kebangsaan :
Gerakan Kebangsaan, Generasi Muda dan Nasionalisme.
Telah berjuta tahun usia bumi, telah beribu tahun usia masyarakat ketika manusia menemukan peradaban dengan akal budinya sehingga mampu merefleksikan konsepsi ruang dan waktu, yaitu kehidupan masyarakat dengan kompleksitas kebudayaannya sebagai ruang, dan perjalanan sejarah dari generasi ke generasi sebagai waktu. Dari sebelum orang mengenal tulisan sampai mencipta pesawat terbang, kapal laut, dan pesawat luar angkasa.
Karena manusia tidak hanya mampu melihat, mendengar, dan merasa, tapi juga mampu mencipta. Dari situlah manusia hidup berkelompok dan mengusung cita-cita bersama.
Dari peradaban yang tercipta oleh akal budi, manusia memiliki ilmu pengetahuan. Sehingga tercipta system kepercayaan, system bahasa, sisitem peralatan hidup dan teknologi, dan seni. Perpaduan keseluruhan unsure itu membentuk satu sisitem kehidupan, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Masyarakat adalah persekutuan-persekutuan kecil yang disatukan oleh kesamaan wilayah, bangsa merupakan system ide dan atau imajinasi yang hidup dalam pikiran setiap orang tanpa dibatasi oleh apapun, semisal kita sebagai bangsa Indonesia merasa satu cita-cita dari orang yang tinggal di Solo dengan orang yang tinggal di Timika Papua Irian Jaya. Kemudian Negara adalah suatu bentuk kontrak social dengan kesepakatan-kesepakatan yang antar berbagai kelompok untuk penyelenggaraan system bersama.
Ini semua berkaitan dengan perkembangan peradaban manusia, yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam hal ini perkembangan selanjutnya lahir berbagai disiplin ilmu yang focus terhadap satu bahasan, politik, ekonomi, social, budaya, dan pendidikan dan secara ideal ini berlaku universal.
Kalau memang bangsa itu lahir dari system ide dan atau imajinasi yang sama antar manusianya, kenapa harus ada bangsa Indonesia, bangsa Amerika, bangsa Turki, dan bangsa-bangsa lainnya di seluruh dunia? Karena setiap wilayah, oleh proses sejarah dan konteks kemasyarakatan memiliki bahasa yang berbeda, system kepercayaan yang berbeda, kesenian yang berbeda, ras yang berbeda, sitem peralatan hidup dan teknologi yang berbeda pula, sehingga ada kerangka berpikir (paradigma) berbeda pula.
Ekonomi-politk menjadi variable utama dalam hal bagaimana symbol-simbol kebangsaaan dapat dicipta, misalnya saja Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang memanifestokan bahwa berbahasa, bertanah air, dan dan berbangsa satu, bangsa Indonesia. Dari sumpah pemuda ini kita akan teringat pada Theology of Hope, di mana symbol politik yang diproduk adalah berbanding lurus dengan efeknya. Misalnya saja symbol politik teology of hope itu berupa kata-kata bhineka tunggal ika, maka mekanisme yang dijalankan dalam system politik juga harus mampu mewujudkan symbol tadi pada praksis kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jika kita bahas bangsa, maka kita akan berbicara tentang system ide dan atau imajinasi yang hidup dalam alam pikiran orang-perorang yang tidak terbatas pada perbedaan wilayah dan ataupun keturunan. Jika kita bahas mengenai Negara, maka kita akan berbicara tentang kepemimpinan politik, dan jika kita berbicara mengenai kepemimpinan politik maka kita akan bicara tentang sisitem yang dijalankan, semisal PEMILU, kampanye, propaganda, dan lain sebagainya.
Kita menilik realitas politik hari ini, kita akan berbicara masalah kepemimpinan nasional, dan kepemimpinan nasional adalah kepemimpinan politik. Hal apa yang perlu dibahas kemudian adalah factor-faktor yang erat kaitannya dengan kepemimpinan nasional dan pergerakan kebangsaan, diantaranya : (1)keterwakilan politik. Saat ini Indonesia memilki Eksekutif yang dipimpin oleh seorang presiden yang dibantu oleh seorang wakil presiden, lembaga legislative, dan yudikatif, dan di antaranya ketiganya mempunyai kedudukan sama dan atau sederajat dan check and balances menjadi prinsip dalam mekanisme penyelenggaraan Negara dan bagaimana antar lembaga pemerintahan satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Kita mengenal prinsip bangsa-bangsa di dunia bahwa hak-hak sipil mutlak untuk di penuhi, seperti hak ekonomi, social, politik, dan tentunya hak-hak dasar lainnya. Dalam system kekuasaan (2) proses politik. Sitem keterwakilan cenderung hanya normative saja, dalam artian memang tertera dalam konstitusi sebuah bangsa –negara. Namun hal yang sangat menentukan pada dasarnya adalah proses politik itu sendiri, PEMILU misalnya. Bagaimana rakyat dapat ikut langsung dalam proses politik dalam substansi demokrasi adalah bukan hanya sekedar nyoblos saat PEMILU, namun rakyat memilki rasionalitas untuk memilih dan dipilih, hal ini berkaitan dengan kedewasaan sebuah bangsa dalam berpolitik. Hal ini penting berkaitan dengan bagaiman sebuah bangsa dapat menempatkan diri di antara bangsa-bangsa di dunia. Misalnya saja Indonesia memiliki prinsip politik luar negri bebas aktif , tidak serta merta politik luar negri bebas aktif ini menjadi karakter diplomasi dari bangsa Indonesia, tanpa system politik yang memang kian matang di dalam negri sendiri dalam membangun kepemimpinan nasional. (3)Keadilan dan Kesejahteraan. Negara-bangsa adalah sebuah organisasi besar yang terhimpun dalam satu symbol politik, dan dalam perjalanannya symbol politik ini terus-menerus berdialektika dengan kehidupan, sehingga dapat dipastikan dinamis. Secara sederhana kita dapat melihat bagaimana adanya relitas bahwa tua-muda dalam kehidupan, misalnya saja dalam proses politik menuju kepemimpinan nasional, segala bentuk sumber daya kehidupan sebuah bangsa dipertaruhkan, karena politik adalah system universal yang signifikan terhadap kehidupan, mengapa? Karena kepemimpinan nasional akan melahirkan system politik, dan system politik akan menghasilkan karakter pengelolaan sumber daya kehidupan, baik manusia maupun alam yang tentunya signifikan pula terhadap kehidupan. (4)Karakter Bangsa. Sejarah mengambil peran penting dalam membentuk karakter sebuah bangsa, dan sejarah adalah symbol politik itu sendiri. Kemudian peralatan hidup dan teknologi mengambil perannya dalam menentukan karakter sebuah bangsa. Saat pergerakan bangsa Indonesia yang dipimpin oleh bung Karno dengan satu symbol politik Sosialisme Indonesia, maka kecendrungannya adalah sosialisme Indonesia, dan jika saat pak Soeharto yang berkuasa dengan symbol politik pembangunanisasinya, maka kecendrungannya adalah developmentalisme, dan begitu seterusnya. Namun politik dan symbol politik itu hanya sekedar alat, yang hakiki pada dasarnya adalah cita-cita yang hidup disetiap hati sanubari orang-orangnya. Jika satu bangsa memilki imajinasi yang tinggi akan obsesi kebudayaannya, maka hal tersebut akan mutlak menjadi warna dalam karakter orang-orangnya, baik etos dan atau bagaimana bangsa tersebut dapat survive(learn how to deffence). Bersentuhan dengan alam adalah mutlak dalam kehidupan, kemudian bagaimana akal budi bekerja untuk mensiasati alam agar sesuai dengan kebutuhan akan hidup dan kehidupan adalah proses panjang dalam mencari bentuk idealnya, di sinilah tercipta kebudayaan yang memiliki tiga pilar yaitu, (a)Mentifact. Adalah satu rumusan tentang mentalitas manusia sebagai subjek kebudayaan. Bagaimana setiap orang berbicara tentang benar-salah, baik-buruk, dan berbagai hal yang termasuk dalam lingkup etika. (b)Soiofact. Adalah satu rumusan tentang mental social yang berupa politik, social, dan ekonomi. Dalam konteks kemasyarakatan ke-tiga konsepsi tersebut dapat mencirikan karakter sebuah bangsa. (3)Artefact. Adalah manifestasi kebudayaan yang berwujud kebendaan. Dari bangunan-bangunan, selera masakan, dan lain sebagainya.
Saat ini globalisasi telah bergulir, dan perbatasan ruang dan waktu antar wilayah sudah sangat tipis, antar kebudayaan saling bertatap muka, maka bagaimana ekonomi, social, dan politik dalam masyarakat mampu mandiri kerangka berfikirnya tanpa terdominasi oleh unsure manapun, itulah tugas kita saat ini. (5)Generasi Muda. Ini adalah unsure vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena ini berkaitan dengan keberkangsungan cita-cita yang diusung sejak kelahiran identitas suatu kelompok. Dunia pendidikan adalah media pembentukan karakter generasi muda, maka proses sosialisasi politik, system ekonomi dan social harus netral dalam dunia pendidikan dalam artian tidak mengusung satu kepentingan kelompok tertentu. Maka dalam prosesnya biarkan generasi muda memilih dan sudah tentu perangkat system politik sudah cukup untuk menjaganya. (6)Nasionalisme. Hal ini berkaitan dengan paham dan atau cita-cita yang diusung dalam satu komunitas. Katakanlah komunitas sebuah Negara-bangsa Masing-masing Negara-bangsa memiliki nasionalismenya, dan setiap Negara-bangsa dalam nasionalismenya itu terdapat dimensi internasionalisme, dalam artian setiap Negara-bangsa akan terus berupaya memepengaruhi Negara lain dalam pergaulan internasional antar berbagai bangsa. Ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki peran penting dalam hal ini. Karena bangsa mana yang mempu mencipta, dan berkarya demi kemaslahatan kehidupan umat manusia di dunia, maka bangsa tersebutlah yang akan mendapat berbagai macam penghargaan dalam dunia internasional. (7)Gerakan Kebangsaan. Ilmu pengetahuan adalah bahan dasar dalam membangun ekonomi, social, dan politik sebuah bangsa, dan teknologi sebagai perangkat pelengakap, dalam artian teknologi hanya alat yang dijalankan dengan kerangka berfikir manusia yang menjalankannya. Dalam pembahasan ini kemudian timbul pertanyaan, Indonesia sebagai sebuah Negara-Bangsa telah memiliki apa?ilmu pengetahuan sebagai kerangkja kerja system politik, ekonomi, social, dan budaya, apakah teknologi yang dapat kita tawarkan dalam pergaulan internasional. Kemudian kita akan menemukan bahwa pergerakan kebangsaan adalah diplomasi, prinsip politik, dan kepemimpinan nasioanal dan dunia.
Kaum miskin, kaum buruh, tenaga terdidik, professional, Mahasiswa, pelajar, pejabat pemerintahan, dan setiap orang adalah memiliki peran dalam pergerakan kebangsaan, karena semuanya berkepentingan dalam mewujudkan tatanan kehidupan yang berkeadilan.
Namun, dalam kehidupan sudah merupakan kodrat adanya kepemimpinan, maka Negara hadir sebagai satu struktur bangunan kepemimpinan nasional, dari mulai ketua Rt/Rw sampai Presiden adalah satu tatanan kenegaraan yang menjalankan fungsinya masing-masing dalam tujuan mencapai masyarakat yang adil, sejahtera dan di ridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Kita akan berkenalan dengan ideology, di mana Pancasila merupakan paham nasional kita, dari sila satu sampai ke-tiga adalah konsepsi mengenai kebangsaan, kemudian dari sila ke-empat sampai sila ke-lima adalah konsepsi mengenai Negara.
Download disini
Download disini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar