Dalam
menjalani kehidupan dimasa mudanya, Ilyas seorang mahasiswa tingkat akhir yang
masih membingungkan diri dalam menjalani dan pencarian bidadari idamannya,
meskipun sudah menetapkan hati kepada seorang wanita. Tidak dipungkiri ia
memikirkan hal tersebut karena selain mencari ilmu dibangku perkuliahan, ia
juga mencari ilmu agama agar tak menyesal dikemudian kelak (kata pak Ustad).
Namun kajian-kajian yang diikuti mayoritas menbahas masalah kehidupan
sehari-hari, nisa’ (wanita), apalagi disuguhi kajian masalah pernikahan. Karna
ada Pro dan Kontra terkait masalah ketika hubungan lawan jenis yang terkenal
saat ini ditataran anak muda “pacaran”.
“Makin kearah
mau akhir masa kuliah, sering mebuat ku bingung nih, ndra”
(Indra teman
Ilyas). Ia menjawab: “emang kamu bingung kenapa?”
“ Gini lho
ndra, ustad-ustad selalu mengatakan nikah itu lebih baik dari pacaran. Pacaran
itu nanti menimbulkan zina, nambah dosa juga”
“Emang apa
salahnya? Bukannya itu benar, sunah rasul juga. Melengkapi separuh agama
lho.....”
“Bukan itu
maksudku”
“Emang maksud
kamu apa?”
“ Ah kamu itu
dari tadi ngomong “Emang” udah berapakali . aku jadi berpikir untuk meresmikan
hubunganku dengan Linda.”
“Emang kamu
yakin?”
“Sebenarnya
aku sudah punya target untuk waktu menikah, tapi setelah aku selesai kuliah.
Jadi aku juga masih mikir-mikir untuk mengkhitbah dia. Tapi aku juga gak mau
hubunganku dengannya nanti akan menimbulkan dosa-dosa yang tak terlihat maupun
yang terlihat.”
“Aku sih
setuju aja dengan keputusanmu kawan, tapi apa kamu sudah bahas masalah itu
dengan Linda?”
“ Belum sih,
lagian aku juga masih kuliah dan tak mau membebani dirinya untuk hal semacam
ini, toh kalau memang jodoh gak bakal kemana.”
Dengan senyum
Andri menjawab : “Sepakat, gak nyangka kamu bisa mikir sampai sejauh itu il,”
“ Penghinaan
itu, aku punya agama ndri, dan gak mungkin aku tak mempelajari itu,Islam gitu
lho. Lagian gini lho ndri, melihat diriku pribadi saat ini dari awal kuliah
sampai sekarang cara pandang ku ke perempuan itu semakin berbeda.”
“Maksud lho?”(
bingung )
“Dulu sewaktu
ikut kajian-kajian keagamaan, aku memandang wanita-ammah itu suka, biasanya
wanita-wanita yang pakai pakaian ketat atau tak berkerudung biasanya digodain,
pura-pura akrab, tapi ketika bareng teman-teman, kalau sendirian gak berani
sih.”
“Terus?”(
penasaran)
“ Meskipun aku
bukan dari golongan keluarga yang kental agama islamnya, namun tak mungkin gak
mempelajari agama yang telah ku peluk sejak kecil. Yang nanti jadi amalanku di
hari kelak. Dan aku gak mau cuma hanya ada embel-embel Islam tapi kelakuanku
tak sesuai dengan syariat. Meskipun banyak wanita yang ku kenal, namun alangkah lebih baik
menambatkan hati untuk wanita yang bisa menjaga diri dan mau menutup auratnya
dengan mengulurkan jilbabnya.”
“ Memang itu
benar, aku pun sepakat. Trus apa hubungan dengan Linda? Bukannya dikampus
banyak yang berkerudung, lebih cantik, lebih pintar dari pada Linda?.”
“Ya menurutku
Linda adalah orang yang menarik ku untuk mencoba lebih baik dari sebelumnya.
Dan masih mencoba berusaha juga, kadang aku juga memikirkan kenapa bisa dia
yang aku pilih padahal yang kamu bilang itu benar ada yang lebih dibanding
dia.”
(Indra
mengangguk tanda mengerti)
Perbincangan
itu pun berakhir. Pada dasarnya hubungan yang dijalani pun sulit dan rumit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar